Buddhisme dan Romantisme Palsu

Ketika berbicara soal konsep buddhisme, yang terbesit di pikiran kebanyakan orang adalah tentang cinta kasih universal.Seiring dengan kalimat yang sering terlontarkan “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata“, yang berarti semoga semua makhluk hidup berbahagia. Bukan hanya cinta kasih terhadap sesama manusia, namun cinta kasih terhadap semua makhluk yang hidup.Cinta kasih ini yang seharusnya dikembang dengan motivasi yang benar, melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan.

Dijelaskan dalam Metta Sutta, Khuddakapanna, Khuddaka Nikaya bahwa :

“Cinta kasih adalah bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan nyawanya, melindungi putra tunggalnya, melindungi putra tunggalnya. Demikianlah terhadap semua makhluk, dikembangkannya pikiran cinta kasih tanpa batas, ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling, tanpa rintangan, tanpa benci dan permusuhan.”

Namun jika berbicara soal nasib petani-petani Pegunungan Karst Kendeng yang sedang dilemahkan, yang haknya sedang dirampas, yang mineralnya dieksploitasi seolah-olah cinta kasih universal menjadi isapan jempol belaka. Kata-kata cinta kasih hanya menjadi pemanis. Cinta kasih universal yang sering digadang-gadang umat Buddha di Indonesia belum mampu menjawab problem sosial ini. Terbukti, tidak ada satu pun organisasi Buddhis di Indonesia yang bersuara tentang hal tersebut.

ibe-kendeng-300x171

Cinta kasih yang universal harus dibuktikan dengan aksi nyata di tengah kompleksitas masalah pada ruang-ruang sosial. Bukankah menyelatkan sebuah kehidupan merupakan bagian dari cinta kasih  universal? Dalam kasus eksploitasi ini bukan saja merugikan manusia, namun juga menimbulkan penderitaan dan pembunuhan terhadap ekosistem, hewan dan tumbuhan. Sudah seyogyanya, sebagai umat Buddha harus bertekad menghindari pembunuhan, tidak membiarkan orang lain membunuh, maupun membiarkan suatu kehidupan terbunuh, baik dalam pikiran maupun cara hidup.

Ajaran bukan sekedar retorika belaka, ajaran Buddha sangatlah aplikatif terhadap persamalahan sosial keseharian. Secara kontekstual, Dharma yang dibabarkan Sang Buddha bukan hanya berlaku untuk pembebasan pribadi, tapi juga berlaku untuk pembebasan sosial. Batas-batas simbolisasi agama perlu didobrak, nilai-nilai agama dan cinta kasih yang universal mesti ditebar ke segala penjuru arah untuk kemaslahatan orang banyak.

Lewat tulisan ini, semoga dapat merubah sudut pandang perihal cinta kasih universal. Semoga kepekaan terhadap rasa kemanusiaan sebagai wujud Dharma yang aplikatif, semakin terasah. Seperti kata terakhir yang diucapkan Sang Buddha sebelum parinibbana (wafat) “Appamadena Sampadetha” yang berarti “Berjuanglah Dengan Sungguh-Sungguh”.

By : Billy Setiadi (PC HIKMAHBUDHI Malang)

Sumber : https://gubuktulis.com/2017/01/18/buddhisme-dan-romantisme-palsu/

Share this:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.