Mahasiswa Buddhis Sebagai Agen Perdamaian Bangsa, Mampukah?

“Penyelesaian nasib bangsa kita hanya akan ditentukan oleh orang-orang berhati besar, kuat dan jujur, serta bercita-cita tinggi dan murni” ~ Soetan Sjahrir

Rakernas merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan dalam rangka periode kepengurusan baru HIKMAHBUDHI (Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia). Rakernas HIKMAHBUDHI X, kali ini bertempat di kota Malang bertema “Meningkatkan Peran HIKMAHBUDHI Terhadap Aktualisasi Pancasila”, Malang – Jumat (24/03/17). Dihadiri oleh beberapa tokoh masyarakat, di antaranya Bhikkhu Subhapanno Mahathera (Ketua Sangha Theravada Indonesia), Dr. Ahmad Basarah, M.H (Ketua Badan Sosialisasi 4 pilar MPR-RI) dan Nia Sjarifuddin (Ketua Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika).

Bung Bas, begitu sapaan akrabnya sebagai pemateri memaparkan sejarah sentakan kata “Merdeka!” yang biasa dikumandangkan para aktivis. “Salam ini bukan milik salah satu golongan atau kelompok saja, salam ini milik orang Indonesia, milik semua yang merindukan kemerdekaan dan keadilan bagi bangsa Indonesia”, paparnya. Hal ini setara dengan nilai pembebasan. Pembebasan ini dapat dimulai dari pembebasan diri untuk berpikir dan berorganisasi.

2-300x185

3-1-300x185

Indonesia kini

Menurut para pemapar, Indonesia kini sedang mengalami ancaman. Identitasnya sebagai negara kesatuan dipertanyakan, Pancasila sebagai dasar negara dicemooh dan tidak dihargai, bahkan undang-undang sebagai dasar hukum sedang digoyang untuk digantikan. Hal ini mengingatkan kita kembali kepada politik devide et impera yang berusaha memecah kesatuan kerajaan-kerajaan di Indonesia demi kelancaran usaha para penjajah.

Setelah kebangkitan nasional, dilanjutkan dengan perjuangan bangsa Indonesia, akhirnya Indonesia dapat bersatu menjadi sebuah negara yang merdeka. Kini kita mewarisi kemerdekaan  dari para pendiri bangsa. Namun, sekali lagi kemerdekaan sedang terancam. Semakin banyak isu yang membuat masyarakat terpecah belah.

Tantangan zaman

Tantangan pemuda saat ini bukan hanya mempertahankan kesatuan NKRI, namun juga menjaga perdamaian bangsa. Keduanya saling berhubungan. Negara yang memiliki taraf konflik horizontal tinggi dapat dengan mudah dikuasai oleh pihak asing. “Selama kita dengan mudah menekan sesama, saat itu pula para penindas dengan mudah memanfaatkan kita,”  Bung Bas.

Pancasila merupakan way of life bangsa Indonesia. Dengan mengamini dan mengaktualisasikan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,  artinya para pemuda khususnya mahasiswa yang mempunyai tingkat intelektualitas bisa turut membantu mewujudkan harapan para pendiri bangsa yang dulu telah berjuang demi kemerdekaan.

Sumber : http://buddhazine.com/mahasiswa-buddhis-sebagai-agen-perdamaian-bangsa-mampukah/

Share this: