Perayaan Waisak 2561 BE/2017 di Lapas Pemuda Tangerang, Cara Ekstrim Bukan Cara Mencapai Ke-Buddha-an

image1

Waisak merupakan satu dari empat hari raya agama Buddha yang dirayakan oleh seluruh umat Buddha di belahan dunia, tak terkecuali bagi para warga binaan beragama Buddha di Lapas Kelas IIA Pemuda Tangerang. Hari Waisak atau yang biasa disebut dengan hari Buddha ini memperingati tiga peristiwa penting, diantaranya adalah kelahiran Pangeran Siddhartha, Pangeran Siddhartha mencapai penerangan sempurna menjadi Buddha, dan Sang Buddha wafat atau parinibbana.

image2

Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan Waisak tahun ini juga dikemas secara sederhana dengan sakral dan kebersamaan. PC HIKMAHBUDHI Kota Tangerang selaku koordinator pembinaan rohani di Lapas ini mengadakan perayaan Waisak pada hari Sabtu, 21 Mei 2017 yang diikuti kurang lebih 30 warga binaan. Perayaan Waisak ini dihadiri oleh Bhikkhu Abhijato, senior, pengurus, dan juga anggota dari PC HIKMAHBUDHI Kota Tangerang.

image4

Bhikkhu Abhijato dalam pesan Waisak-nya menyampaikan bahwa dalam tiga momen penting Waisak ini, ada satu momen yang wajib menjadi perhatian kita bersama, yaitu momen di mana Pangeran Siddhartha mencapai ke-Buddha-an. Selama enam tahun Petapa Siddhartha melakukan penyiksaan diri di hutan Uruvela dengan beranggapan bahwa jika jasmani ini tersiksa dan sakit, tetapi batin ini tidak ikut sakit, maka ini adalah pembebasan. Petapa Siddhartha melakukan penyiksaan diri ekstrim, seperti tidur dengan satu kaki tergantung di pohon, tidur dengan alas duri-duri atau benda tajam, membakar diri, mengurangi makan sangat ekstrim dan hampir saja meninggal jika tidak ditolong oleh Sujata dengan memberikan semangkuk bubur susu sapi. Setelah hampir mati, akhirnya petapa Siddhartha menyadari bahwa apa yang ia lakukan selama ini salah dan tidak bermanfaat. Jika senar gitar ditarik terlalu kencang, maka ia akan putus. Jika senar gitar ditarik terlalu kendur, maka ia tak bersuara. Tariklah senar gitar dengan tidak terlalu kencang maupun terlalu kendur. Petapa Siddhartha pun melakukan meditasi di bawah pohon besar (sekarang disebut pohon Bodhi) dan bertekad sepenuh hati bahwa ia tidak akan bangun sebelum mencapai penerangan sempurna atau menjadi Buddha.

image3

Dalam momen Waisak ini, Bhikkhu Abhijato mengharapkan agar para warga binaan dapat menyadari kesalahan yang mereka lakukan dan terus melakukan kebajikan sehingga tidak akan melakukan kesalahan yang sama, terlebih lagi masuk ke dalam lapas ini berkali-kali.

By: Rendy Arifin

Share this: