Mahasiswa Buddhis: Serukan Jaga Kebinekaan dan Kecam Kasus Rohingya

Beberapa waktu terakhir ini banyak sekali muncul kejadian-kejadian intoleran di Indonesia. Kejadian tersebut tentu dapat mengancam persatuan dan kesatuan Indonesia. Dengan keberagaman yang ada di Indonesia, hal-hal yang bersinggungan dengan keragaman tersebut dapat memantik emosi yang dapat berujung dengan aksi-aksi radikalisme. Terlebih lagi dengan penyebaran berita-berita hoax yang sangat mudah melalui media sosial.

Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI) melihat pentingnya untuk ikut serta dalam menjaga kebinekaan dan persatuan di Indonesia. Dengan mengangkat tema “Mahasiswa Buddhis: Cendekiawan Muda Penjaga Kebinekaan”, hampir 150 kader HIKMAHBUDHI seluruh Indonesia mengikuti kegiatan Pekan Orientasi IX HIKMAHBUDHI yang berlangsung dari tanggal 1-3 September 2017 di Vihara Avalokitesvara Banten. Mereka diberikan pemahaman dan pergerakan organisasi secara nasional, serta peran serta dalam menjaga kebinekaan di Indonesia.

Kegiatan Pekan Orientasi IX HIKMAHBUDHI ini dibuka secara resmi oleh Parulian Sihotang yang mewakili Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI di Hotel Flamengo, Serang, Banten.

“Jadilah 100% Indonesia dan 100% Buddhis. Mahasiswa Buddhis harus menjadi pengawal empat konsesus dasar RI, yakni Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Mahasiswa jangan tabu berpolitik karena sejatinya politik dimaksudkan untuk kesejahteraan rakyat.”, ucap Deputi Keuangan dan Menetisasi SKK Migas sebagai keynote speaker dalam pembukaan tersebut.

2017-09-04-PHOTO-00000546

Pembukaan Pekan Orientasi IX HIKMAHBUDHI ini dikemas dengan Studium Generale yang menghadirikan tiga orang pembicara, yaitu Aryo Djojohadikusumo, KH. Matin Syarkowi, dan Bhikkhu Gunapiyo dan dimoderatori oleh Adi Kurniawan.

“Kebinekaan tidak cukup hanya diterima, melainkan kebinekaan perlu dipahami, dipahami sebagaimana mestinya. Ketika kita saling memahami, melalui pengertian yang benar diantara perbedaan yang ada, disana tidak ada lagi pikiran mencurigai dan saling menuding. Buddhis Indonesia adalah Buddhis Nusantara, yang berakulturasi dengan budaya nusantara sejak lama, dan Buddhis mengajarkan cinta kasih pada aksi nyata, bukan teori.” Jelas Bhikkhu Gunapiyo

2017-09-04-PHOTO-00000543

“… yang terpenting adalah menjaga persatuan. Di era modern ini banyak sekali berita-berita hoax yang meresahkan masyarakat dan memecah belah NKRI. Mahasiswa harus bisa mengetahui mana berita hoax atau bukan dan turut andil dalam menjaga NKRI.”, papar Aryo yang saat ini menjabat sebagai anggota DPR RI Komisi VII.

  1. Matin Syarkowi juga mengatakan bahwa semua elemen masyarakat harus ikut andil dalam menjaga kebinekaan, termasuk mahasiswa.

“Tak ada seorang pun di dunia yang memegang kunci surga, semua agama pasti mengajarkan kebaikan, jangan takut jika itu adalah kebaikan, terlebih untuk rumah kita bersama, Indonesia.”, jelas Ketua PC NU Kota Serang.

Ditengah pelaksanaan Pekan Orientasi IX ini, konflik kemanusiaan di Rakhine, Myanmar menyita perhatian dunia, termasuk di Indonesia. Akibat kejadian tersebut, banyak pihak yang mengecam peristiwa itu.

“Kami sangat menyayangkan kejadian tersebut. Kami dari mahasiswa Buddhis mengecam kejadian krisis kemanusiaan yang terjadi di Myanmar,” kata Ketua Umum Presidium Pusat HIKMAHBUDHI, Sugiartana, pada acara Pembukaan dan Studium Generale Pekan Orientasi IX HIKMAHBUDHI.

Sugiartana menyayangkan sikap pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi yang dinilai tak serius mengakhiri konflik. Padahal San Suu Kyi di samping memiliki kekuasaan, ia adalah penerima Nobel Perdamaian pada 1991 lalu, karena perjuangan anti kekerasan untuk demokrasi dan hak asasi manusia.

“Kita akan melakukan upaya menemui Duta Besar Myanmar, mendesak Suu Kyi untuk bersuara terkait dengan kondisi ini. sehingga kita bisa menemukan solusi yang bisa memanusiakan manusia,” ujar Sugiartana.

Mahasiswa Buddhis juga berharap Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) segera berpartisipasi memberikan solusi menyelesaikan permasalahan yang terjadi.

Sementara itu, Aryo menuturkan bahwa pembantaian etnis Rohingya di Myanmar tidak sama sekali ada hubungannya dengan persoalan agama, melainkan soal politik dan kekuasaan.  Sebab menurut Politikus Partai Gerindra ini, di Myanmar ada sekelompok orang yang ingin merebut kekuasaan dan kebetulan di Myanmar penduduknya mayoritas umat Buddha. “Tidak ada hubungannya dengan agama, tapi hubungannya dengan kekuasaan,” tutur politikus Partai Gerinda ini.

2017-09-04-PHOTO-00000544

“Penindasan yang terjadi belakangan ini terhadap kaum Rohingya di Myanmar merupakan aksi kemanusiaan yang tidak sejalan dengan dasar ajaran agama Buddha. Oleh sebab itulah, tidak ada pembenaran yang disetujui atas penderitaan suatu makhluk yang disebabkan oleh makhluk lainnya di dunia ini.”, tegas Bhikkhu Gunapiyo

Hal senada juga dikatakan Ketua PC NU Kota Serang, KH Matin Syarkowi. Ia meminta pemerintah Myanmar segera menghentikan kekerasan, pembunuhan dan pengusiran warga etnis Rohingya.

“Siapa bilang NU tidak mengutuk peristiwa itu. Kita mengutuk kekerasan yang dilakukan terhadap umat muslim di sana,” tutupnya.

By : Rendy Arifin

Share this: