Hasil Kajian Panitia Khusus (Pansus) Paradigma HIKMAHBUDHI 2005 – 2007

PARADIGMA MAHASISWA DAN PEMUDA

BUDDHIS INDONESIA: REKONSTRUKSI

PEMAHAMAN EKSISTENSI GENERASI

MUDA BUDDHIS DI INDONESIA

Hasil Kajian Panitia Khusus (Pansus) Paradigma

HIKMAHBUDHI

2005 – 2007

Pendahuluan

Bahwa paradigma merupakan cara atau panduan berpikir, bertindak, serta memahami suatu obyek kajian. Obyek kajian merupakan tema atau persoalan-persoalan tertentu berkenaan dengan kehidupan yang dianggap penting untuk disikapi sesuai landasan paradigma seseorang atau kelompok tertentu. Paradigma suatu kelompok hendaknya disadari, dipahami, diterima, dan dijadikan dasar oleh semua anggotanya, namun tidak sebagai penanaman konsep yang dipaksakan, yang meliputi nilai yang dipegang masing masing pribadi anggotanya juga.

Paradigma mahasiswa dan pemuda Buddhis ini bersifat prinsip umum, muncul dari suatu pencerahan dan kesadaran bersama, di mana ia juga memiliki kemampuan untuk mengakomodasikan perbedaan dan keragaman yang ada, serta berisi semangat pembaharuan di berbagai aspek pergerakan yang menunjukkan eksistensi generasi muda Buddhis di Indonesia. Suatu kelompok kecil hingga besar seperti suatu bangsa memerlukan paradigma untuk bisa terus maju dan berkembang. Tanpa paradigma seseorang tidak dapat mengetahui ke mana langkah berikutnya yang harus diambil. Pada akhirnya suatu paradigma akan terlihat pada budaya masyarakat, etos kerja, karakter, dan perilaku manusianya.

Bahwa setiap paradigma juga tidak terlepas dari proses dan pengalaman sejarah yang ada sebelumnya. Suatu paradigma bisa menjadi sumber kemajuan, kemunduran, dan kemandegan dalam sejarah, bahkan bisa menjadi sumber bencana kehidupan. Zaman kegelapan di Eropa, zaman jahiliah di Timur Tengah, zaman diskriminasi di Amerika, bahkan masa-masa kolonialisasi telah menunjukkan sebuah paradigma lama dalam sejarah peradaban

manusia. Untuk melahirkan sebuah paradigma baru yang lebih maju dibutuhkan suatu pencerahan dan kesadaran baru dengan melakukan dekonstruksi terhadap paradigma lama yang masih berlaku.

Sejarah dalam Restorasi Meiji maupun masa-masa Reformasi 1998 di Indonesia menunjukkan bagaimana dekonstruksi terhadap paradigma lama berlangsung dengan sangat cepat. Namun dekonstruksi terhadap paradigma lama harus segera diikuti dengan rekonstruksi paradigma baru yang akan menjadi landasan baru yang kuat untuk melanjutkan proses kehidupan bersama. Menjadi sangat berbahaya bila upaya rekonstruksi paradigma baru tidak tercapai sementara dekonstruksi paradigma lama telah terjadi, sehingga suatu bangsa kehilangan orientasi dalam melanjutkan masa depan sejarahnya.

Bahwa dalam kerangka pemikiran itulah “Paradigma Mahasiswa dan Pemuda Buddhis Indonesia” ini dilakukan. Sejumlah pertanyaan mendasar diajukan untuk memahami apa dan bagaimana sesungguhnya paradigma komunitas Buddhis Indonesia yang telah ada selama ini. Apakah paradigma yang ada sudah mampu menjadi landasan yang kuat untuk membawa kemajuan komunitas di segala bidang, atau sebaliknya menjadi sumber kemandegan dan kemunduran komunitas di segala bidang. Apa dan bagaimana keberadaan sejarah komunitas Buddhis Indonesia sesungguhnya. Seperti apa kemajuan, kemunduran, atau kemandegan komunitas Buddhis Indonesia, baik dalam konteks intern perkembangan komunitas Buddhis, namun yang terutama bila dibandingkan denganperkembangan sahabat-sahabat mereka di luar komunitas Buddhis.

Lalu bagaimana hubungan kondisi perkembangan komunitas Buddhis Indonesia tersebut dengan paradigma yang ada yang masih berlaku, sehingga dapat dipahami nilai-nilai apa saja yang perlu didekonstruksi dan bagaimana melakukan rekonstruksi sehingga terwujud sebuah paradigma baru yang mampu membawa pembaharuan dan kemajuan di masa depan.

Bahwa upaya melakukan rekonstruksi paradigma lama hingga terwujudnya suatu paradigma baru harus didasarkan kepada landasan nilai yang jelas. Ada sejumlah nilai dasar yang menjadi penuntun, yakni nilai-nilai Dharma Substantif – Universal yang dilakukan secara Inklusif – Transformatif dengan semangat Radik – Progresif, sebagai perwujudan kecintaan dan kesetiaan terhadap Buddha Sumber Inspiratif Mulia.

Bahwa nilai-nilai Dharma Substantif – Universal merupakan intisari Dharma yang bisa mengatasi berbagai keadaan dan permasalahan kehidupan. Yang dimaksud dengan pendekatan Inklusif – Transformatif adalah tidak membatasi persoalan hanya pada suatu komunitas atau ruang lingkup tertentu, namun mampu menjawab berbagai macam persoalan kemasyarakatan yang ada menuju perubahan kehidupan yang lebih baik. Semangat Radikal – Progresif merupakan cara untuk memahami permasalahan kehidupan hingga ke akar persoalan dan bagaimana secara aktif melakukan pembaharuan-pembaharuan yang mampu mengatasi akar persoalan yang ada.

Paradigma Mahasiswa dan Pemuda Buddhis Indonesia ini akan menjadi acuan dalam membentuk sikap, ciri khas, dan karakter pergerakan mahasiswa dan pemuda Buddhis Indonesia. Dengan demikian setiap gerak langkah perjuangan mahasiswa dan pemuda Buddhis Indonesia dalam mencapai cita-citanya memiliki landasan berpijak, berpikir, dan bergerak yang kuat dalam mengatasi setiap tantangan zaman yang ada. Penjabaran paradigma yang semakin detail akan menjadikannya semakin konkret, bukan semakin spesifik dan membatasi. Bagaimanapun, hasil kajian ini selalu bersifat terbuka sejalan dengan munculnya kesadaran atau pencerahan-pencerahan baru kaum muda di masa yang akan datang.

Sejarah Sebagai Sumber Pencerahan

Babak baru pergerakan mahasiswa Buddhis di Indonesia dimulai sejak awal tahun 70-an ditandai dengan berdirinya Keluarga Mahasiswa Buddhis Universitas Indonesia (KMBUI) pada bulan Februari 1971. Kemudian diikuti dengan berdirinya Keluarga Mahasiswa Buddhis Djakarta (KMBD) pada tanggal 14 Maret 1971. Setelahnya sejarah terus bergulir hingga sekarang dengan banyaknya organisasi dan kelompok mahasiswa maupun pemuda Buddhis Indonesia. Masa hampir empat puluh tahun itu melibatkan berbagai pemikiran, aktivitas gerakan, sampai konferensi, yang semuanya mengharapkan perubahan yang lebih baik bagi eksistensi Buddhis di Indonesia.

Dari sejarah yang bergulir, keberadaan dan peran serta masyarakat Buddhis di Indonesia belum nampak secara signifikan. Label eksklusif tertentu di masyarakat menggambarkan masyarakat Buddhis sebagai kelompok yang lebih sebagai pelengkap atau penonton saja dalam komunitas di Indonesia secara keseluruhan. Perkembangan agama Buddha sendiri juga lebih banyak mengarah pada pembangunan fisik komunitas dibandingkan pembangunan mental spiritual maupun pendidikannya.

Generasi muda Buddhis hanya memiliki sangat sedikit tokoh besar yang dapat menjadi panutan kebijaksanaan dan berpandangan luas ke depan. Ketika dihadapkan pada berbagai kondisi dan permasalahan nasional kaum Buddhis seperti kebingungan tidak tahu harus mengambil langkah apa, bahkan terkesan takut mendengar kata politik. Padahal peran serta dan keberadaannya dikancah perpolitikan nasional jelas sangat dibutuhkan. Belum ada yang berani mengkader maupun dikader untuk menjadi salah satu pemimpin nasional di kemudian hari. Memang ada beberapa kontribusi penting yang dimainkan para pemimpin dan komunitas Buddhis Indonesia, namun kontribusi itu nampaknya belum sebanding dengan keluhuran nilai yang terkandung dalam ajaran Buddha.

Memang ada upaya kaum Buddhis menampik label eksklusif dengan usaha-usaha baru seperti mulai membuka dan melibatkan diri dalam banyak acara nasional dan berusaha masuk dalam kancah perpolitikan nasional, namun sepertinya masih membutuhkan pembelajaran dan banyak langkah baru untuk bisa lepas dari label tersebut. Rasanya ajaran Buddha tidak sedemikian dangkal sehingga masyarakat pemeluk ajaran itu hanya menjadi penonton dalam kehidupan bermasyarakat suatu negara, apalagi hidup disebuah negara yang berpenduduk ke-4 terbesar di dunia. Kita bisa melihat contoh di luar seperti Y.M. Dalai Lama yang berjuang untuk rakyat Tibet; Y.M. Bhikkhu Maha Ghosananda yang berperan besar membawa perdamaian di Kamboja; Aung Sang Suu Kyi yang menjalankan aksi anti kekerasan dalam memimpin rakyatnya menghadapi rezim militer Myanmar; Dr. Sulak Sivaraksa, intelektual Buddhis yang berkeliling dunia menyebarkan nilai-nilai universal Buddhis untuk mengatasi permasalahan global dunia.

Mereka adalah segelintir tokoh dunia yang membuktikan bahwa ajaran Buddha tidaklah dangkal seperti halnya yang ditunjukkan di Indonesia. Mereka menunjukkan secara konkret tidak sekedar retorika belaka, bahwa ajaran Buddha sangatlah aplikatif terhadap permasalahan sosial keseharian. Perjuangan mereka menunjukkkan bahwa agama Buddha bukan hanya untuk pembebasan pribadi tapi juga untuk pembebasan sosial.

Aspek ritual dan tradisi lebih banyak mendominasi gerakan dan aktivitas mahasiswa Buddhis yang seharusnya bisa mengkritisi setiap kondisi yang pada dasarnya memang sudah diliputi oleh banyak penderitaan yang disebabkan kebodohan batin. Prinsip ehipassiko menjadi tumpul dengan alasan keamanan dan kenyamanan. Jika hal seperti ini diteruskan bagaimana kita bisa mengharapkan sesuatu yang lebih baik di masa yang akan datang. Karena berbagai ide membangun dengan sendirinya tidak pernah muncul dan berkembang. Semua orang sudah cukup dengan mengejar dan mempertahankan kenyamanannya sendiri.

Padahal tanpa disadari penyimpangan dan kejahatan struktural yang dilakukan para elit pimpinan nasional sejak berpuluh tahun lalu hingga kini semakin lama semakin memprihatinkan dan membutuhkan peran Dharma di dalamnya. Hampir tidak ada pejuang Dharma yang berani eksis hingga ke area-area kepemimpinan nasional, di mana di sanalah tempat strategis untuk melakukan suatu perubahan yang fundamental.

Belum lagi penanaman pemikiran bahwa berpolitik itu haram sifatnya dan bertentangan dengan prinsip-prinsip Buddhis yang cinta damai. Politik identik dengan kekerasan dan penuh intrik, tidak sesuai dengan Jalan Tengah. Di bagian lain kita akan melihat bagaimana sebenarnya ajaran Buddha yang menjadi landasan pergerakan, yang dipandang dari sisi yang berbeda, yang justru membuat semangat untuk mendekatkan diri dengan penderitaan umat manusia semakin membara. Sejarah sedang bergulir dan akan terus bergulir, dengan atau tanpa gerakan kita. Namun kita memiliki kesempatan untuk terlibat dan menjadi sejarah itu sendiri. Sejarah pergerakan menuju terbebasnya penderitaan, seperti semua cita-cita luhur kaum Buddhis, bahkan manusia dan semua makhluk hidup, sejak waktu lampau.

Kembali bicara mengenai pergerakan muda Buddhis, mahasiswa dan pemuda Buddhis Indonesia sebenarnya sudah melangkah memulai sejarah pergerakan yang memiliki sisi pandang yang berbeda dan berupaya untuk membangun masyarakat Buddhis masa depan yang benarbenar inklusif dan peduli bangsa. Namun karena sifatnya yang masih dipengaruhi oleh ritual dan tradisi turun temurun, berbagai kesulitan dan hambatan harus dilalui untuk menuju cita-cita itu.

Dimulai dari didirikannya KMBJ, mahasiswa Buddhis di Indonesia sudah mulai memikirkan pentingnya nasionalisme dan inklusivitas. Dalam perkembangannya, organisasi mahasiswa Buddhis juga mengalami banyak sekali tantangan realitas yang juga diiringi kurang matangnya visi maupun mentalitas yang seharusnya mendukung. Bahkan dalam gerakan para mahasiswa itu sendiri akhirnya malah menimbulkan perpecahan dan konflik kepentingan yang tak kunjung habis, tidak ada bedanya dengan komunitas Buddhis secara keseluruhan yang lebih suka bersikap eksklusifbdan menganggap perannya yang paling bermakna dan prinsipnya yang paling benar. Belum lagi kesan memperebutkan sumber daya yang sangat minim kemudian menjadi sumber konflik yang cukup memprihatinkan.

Melalui kegiatan Pekan Orientasi I di Cipanas tahun 1995, untuk pertama kalinya mahasiswa Buddhis melalui KMBJ melakukan reorientasi pergerakannya, menggodok visi, misi, dan orientasi organisasi untuk memunculkan perbaikan ke depan. Berbagai perubahan diarahkan pada perjuangan menegakkan kebenaran, keadilan, dan perdamaian dengan berlandaskan nilai-nilai Buddhis universal dan paham antikekerasan. Dengan reorientasi dan reposisi gerakan ini, KMBJ dengan tegas menyiratkan arah pergerakannya akan lebih dititikberatkan pada peran sosial kemasyarakatan. Media informasi pun berkembang melalui Majalah HIKMAHBUDHI, serta fusi KMBJ menjadi satu kesatuan dengan Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI). Semua itu demi mempersiapkan landasan perjuangan mahasiswa dan pemuda Buddhis Indonesia di masa yang akan datang.

HIKMAHBUDHI yang dicetuskan sejak tahun 1971 dan secara formal berdiri pada tahun 1988, dicanangkan sebagai wadah organisasi mahasiswa Buddhis di tingkat nasional. Pada pertengahan tahun 90-an, setelah HIKMAHBUDHI mengalami kevakuman, beberapa aktivis mahasiswa Buddhis kembali menghidupkan organisasi ini sebagai sarana perjuangan untuk mewujudkan kepedulian terhadap masyarakat Indonesia. Selain itu, HIKMAHBUDHI juga digunakan untuk mengisi kekosongan elemen mahasiswa Buddhis dalam pergerakan bersama mahasiswa Indonesia dalam gerakan reformasi di tahun 1998. Sejak saat itu pengurus HIKMAHBUDHI terus melakukan sosialisasi, sehingga pada bulan Agustus 2002 berhasil diselenggarakan Rembug Mahasiswa Buddhis Indonesia (RMBI) yang diikuti perwakilan dari Tangerang, Bogor, Semarang, Malang, Surabaya dan Jakarta. Salah satu hasilnya adalah dibutuhkannya jaringan organisasi kemahasiswaan Buddhis berskala nasional.

Dari sana, proses perkembangan HIKMAHBUDHI terus berlanjut dengan pembentukan beberapa cabang di beberapa kota, berlanjut pada penyelenggaraan kongres nasional HIKMAHBUDHI. Semua ini bisa terwujud tentu tidak terlepas dari peran dan dukungan sejumlah aktivis mahasiswa Buddhis berbagai daerah yang menyatukan hati dan visi mereka melalui Rembug Mahasiswa Buddhis Indonesia (RMBI) yang sangat penting artinya bagi perjalanan historis kebangkitan HIKMAHBUDHI saat itu.

Tanpa peran serta mereka melalui RMBI ini, mungkin HIKMAHBUDHI hanya terus menjadi impian. Upaya menghidupkan kembali HIKMAHBUDHI ini bukan tanpa tantangan, apalagi dengan arah pergerakannya yang cenderung menoleh ke masyarakat. Sikap sinis, curiga, dan keraguan muncul dari berbagai arah, baik dari pimpinan dan tokoh Buddhis, kalangan sesama aktivis, termasuk sekelompok alumni organisasi mahasiswa Buddhis lain yang sebelumnya pernah tergabung ke dalam HIKMAHBUDHI.

Sebaliknya, dukungan dan dorongan juga datang terutama dari kalangan intelektual moderat Buddhis meskipun jumlahnya jauh lebih sedikit. Yang ironis, dukungan terbesar justru datang dari kalangan dan tokoh non-Buddhis nasional serta aktivis Buddhis internasional, baik secara lisan, tulisan, maupun bentuk aktual konkrit lainnya. Menanggapi tantangan ini, HIKMAHBUDHI mengambil sikap untuk terus konsisten memperjuangkan arah geraknya, dengan tetap memperhatikan masukan maupun kritikan yang bersifat membangun. HIKMAHBUDHI sadar tanpa dukungan luas, perjuangan yang dilakukannya mustahil dapat tercapai. Sikap konsisten ini bukan karena arogansi namun lebih bersumber pada keinginan untuk membentuk suatu sarana perjuangan yang tangguh, sebuah sarana perjuangan yang diharapkan dapat memunculkan komunitas Buddhis masa depan yang peduli pada penderitaan sosial masyarakat, dan kelestarian nilai-nilai universal Buddhis. Dengan kata lain, mahasiswa Buddhis Indonesia generasi 70 dan 80-an telah memainkan peran sebagai pendobrak dan motor kebangkitan agama Buddha di Indonesia dalam dimensi ritual. Memasuki pertengahan 90-an mahasiswa Buddhis Indonesia mulai menoleh ke masyarakat dan mencoba memainkan peran kemasyarakatannya. Babak kedua pergerakan mahasiswa Buddhis mulai dimainkan.

Namun, masih banyak lubang di sana sini yang harus diperbaiki. Visi dan misi perjuangan untukpeduli, dan berpihak kepada penderitaan rakyat belum menjadi kesepakatan bersama. Hanya sebagian kecil kelompok seperti HIKMAHBUDHI dan beberapa kelompok kecil lainnya yang melihat pentingnya mahasiswa Buddhis berpihak dan peduli pada penderitaan masyarakat. Dimensi kemasyarakatan hanya disentuh demi kepentingan simbolis sesaat. Iming-iming pembebasan pribadi atas penderitaan duniawi apabila mengabdi untuk kepentingan agama, agaknya lebih membekas di benak mahasiswa Buddhis sehingga kegiatan ritual masih dikedepankan.

Itulah gambaran awal babak kedua yang sedang berlangsung. Proses penumpulan nurani dan pendangkalan intelektual menjadi hambatan terbesar. Lingkup perjuangan mahasiswa menjadi kerdil karena obyektivitas penyelenggaraan kegiatan cenderung diarahkan hanya untuk mengejar nama baik organisasi. Tujuan substansi dan pencapaian sasaran kegiatan dinomorduakan. Nuansa persaingan antar-organisasi sulit dihindarkan. Konsekuensinya, komunikasi di antara generasi muda Buddhis pun otomatis menjadi renggang. Entah sampai kapan keadaan ini akan berlangsung. Yang pasti selama mahasiswa Buddhis Indonesia terus terbuai dengan perjuangan ritualnya, dan mengesampingkan nurani dan nalarnya sebagai mahasiswa, dan selama mahasiswa Buddhis membutakan dirinya terhadap penderitaan aktual masyarakat, maka dapat dipastikan masa depan perkembangan agama Buddha akan sangat suram. Semakin tidak relevannya agama Buddha di Indonesia secara pasti akan terwujud. Suatu saat, Buddhis hanya menjadi monumen-monumen yang meskipun megah tapi tak berjiwa.

Namun semangat perjuangan kelompok arus kecil nampaknya sulit dipadamkan. Kecintaan akan agama Buddha, dan kepedulian terhadap penderitaan sosial masyarakat serta kerinduan insan Buddhis untuk berkontribusi nyata dalam permasalahan bangsa menjadi pendorong yang tidak kalah kuatnya bagi kelompok arus kecil. Melalui kebangkitannya ini diharapkan akan dapat mewujudkan visi, misi, dan orientasi organisasi yang berjuang untuk menegakkan kebenaran, keadilan, dan perdamaian.

Perjuangan masih berlangsung dan keputusan ada ditangan  mahasiswa Buddhis generasi masa kini dan masa datang. Keputusan yang diambil akan sangat menentukan. Untuk itu mahasiswa Buddhis Indonesia dituntut kepekaan nurani dan kejernihan berpikirnya dalam menentukan jalan yang diambil.

Mau ke mana mahasiswa dan kaum muda Buddhis Indonesia? Mungkin ini pula yang perlu menjadi salah satu renungan terpenting. Juga bagi segenap elemen mahasiswa lainnya di berbagai daerah. Karena mereka adalah generasi kedua

pergerakan mahasiswa Buddhis Indonesia yang masih menguasai waktu dan zaman, yang tidak lagi dimiliki para pendahulunya. Namun upaya ini pun akan tetap membutuhkan gerak bersama dari berbagai elemen yang ada, karena seperti yang Buddha katakan bahwa kalyanamitra amat penting dalam hidup ini.

Pencerahan di Tengah Dekonstruksi dan

Rekonstruksi

Paradigma

 

Makhluk hidup tak terbilang banyaknya,

aku berikrar untuk menyelamatkannya;

Hawa nafsu tak habis-habisnya,

aku berikrar untuk memadamkannya;

Pintu Dharma tiada batasnya,

aku berikrar untuk memasukinya;

Jalan Buddha tiada bandingnya,

aku berikrar untuk merealisasikannya.

(Ikrar Bodhisattva)

Karena itu, peganglah teguh Dharma ini sebagai pelita,

Peganglah teguh Dharma ini sebagai pelindungmu.

(D. II, 100)

 Bahwa Dharma bukanlah dan tidak boleh ditempatkan di dalam ruang vakum dan steril dari persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan inklusif. Sebagai kaum muda mahasiswa dengan akal budi dan hati nuraninya, senantiasa berusaha menggali nilai-nilai Dharma secara inklusif dan kontekstual. Bagaimanapun Dharma harus tetap menjadi urat nadi dan landasan nilai pergerakan segenap kaum muda mahasiswa Buddhis. Mensterilkan dan memvakumkan Dharma sama saja menempatkan Dharma seakan-akan hanya relevan untuk persoalan keagamaan dan ritual, sementara di luar persoalan keagamaan dan ritual, Dharma menjadi sesuatu yang tidak relevan. Paradigma dan sikap yang menganggap Dharma sebagai sesuatu yang vakum dan steril akan menjadi awal dari segala kemandegan dan kemunduran di dalam komunitas maupun bermasyarakat. Bila kita memiliki keyakinan Dharma sebagai sesuatu yang universal, maka keuniversalan Dharma juga harus mampu menjawab persoalan-persoalan budaya, ekonomi, politik, dan khususnya masalah-masalah kemanusiaan, kemiskinan, kekerasan, dan penderitaan struktural.

Bahwa sikap dan upaya mensterilkan dan memvakumkan Dharma dari persoalan-persoalan konkrit kemasyarakatan sama artinya sedang membonsai Dharma yang hakekat sejatinya adalah universal. Dan Dharma bukan sejatinya sebuah pohon bonsai yang hanya berfungsi untuk hiasan dan indah dipandang. Hakekat sejati Dharma adalah kehidupan, harapan, dan pembebasan, dan karenanya harus mampu menghidupi, membebaskan, dan memberikan harapan bagi semesta alam dengan segala persoalan dan dilemanya.

“Mereka yang terendam dalam nafsu dan terbungkus dalam kegelapan, takkan pernah memahami Dharma yang mendalam ini, yang berjalan melawan arus, begitu halus, dalam, dan sulit dilihat.” (Majjhima Nikaya 26,19)

“Bangkitlah, pahlawan yang menang, yang tak berutang. Biarlah Yang Terberkahi mengajarkan Dharma. Akan ada mereka yang bisa memahami” (Brahma Sahampati)

 Bahwa kaum muda mahasiswa hendaknya mampu berpikir kritis-eksploratif, suka memilih jalan alternatif yang meskipun beresiko, namun penuh motivasi yang jujur dan beritikad baik atas perkembangan bersama, serta siap menghadapi kondisi dan tantangan apa pun yang serba mengejutkan dan sering membuat bingung orang yang tidak siap mental. Dan untuk menjalankan panggilan khas kaum muda dan tanggung jawab sejarah tersebut, kaum muda mahasiswa memang perlu belajar dan berani mencoba berbagai bentuk tindakan, gagasan, strategi, atau apa pun juga guna memperbaiki kondisi kehidupan berbangsa saat ini.

Namun demikian, pada akhirnya setiap kaum muda mahasiswa juga harus terus senantiasa bertanya ke dalam hati nuraninya, “Apakah motivasi saya telah mengkhianati ‘Ibu Kandung’ Dharma, ataukah tidak?” Selama motivasi pergerakan kaum muda mahasiswa masih tetap dalam kerangka kesetiaannya terhadap Dharma, jalankanlah dengan penuh kearifan dan keteguhan hati, kesadaran spiritual, dan kecintaan terhadap keadilan dan kebenaran. Nilai-nilai sejati Dharma ini harus tetap menjadi penuntun dan semangat dasar setiap pergerakan kaum muda mahasiswa. Jangan takut dan jadilah pemenang di jalan Dharma.

“Para pemenang adalah mereka yang seperti Aku.

Yang telah memenangkan hancurnya noda-noda.

Aku telah menundukkan semua keadaan jahat.

Oleh karenanya, Upaka,

Aku adalah pemenang.”

(Majjhima Nikaya 26,25)

 

Paradigma Baru

Visi dan Harapan Generasi Muda Buddhis

di Masa Kini dan Mendatang

 

“Hanya satu yang Aku ajarkan, Adanya Derita dan Jalan

Menuju Terbebasnya Dukkha.”

(Middle Length Sayings of Buddha:180)

 

“Di dalam tubuh manusia yang dapat diukur

panjangnya ini dan persepsi dan segala pikiran yang

menyertainya, Aku nyatakan adanya dukkha, asal mula

dunia, lenyapnya dukkha dan jalan menuju lenyapnya

dukkha.” (S.I:62)

 Bahwa adanya dukkha dan jalan menuju pembebasan sempurna dari dukkha merupakan akar dan semangat dasar dari seluruh Dharma. Ada semangat universal di dalam Dharma karena dukkha merupakan persoalan semua makhluk tanpa kecuali dan jalan menuju terbebasnya dukkha juga terbuka bagi siapa pun tanpa kecuali. Mengatasi dukkha berarti memahami apa yang menjadi sebabnya sehingga kita mampu mengatasi akar persoalan dukkha.

Secara personal, sebab dukkha berakar di dalam diri manusia yang terus menerus terjebak dan tercengkeram ke dalam keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Secara sosial, sebab dukkha yang sama terwujud ke dalam sistem dan struktur yang tidak adil dan menindas, keserakahankebencian- kebodohan batin termanifestasi ke dalam berbagai bentuk peraturan, perundangundangan, dan menjelma menjadi sebuah budaya masyarakat.

Sebab dukkha secara personal dan sosial ini saling berinteraksi, dari individu-individu yang termotivasi oleh keserakahan-kebenciankebodohan batin melahirkan berbagai sistem dan struktur yang tidak adil menindas, sistem yang tidak adil menindas juga semakin memperbesar dan memungkinkan keserakahan-kebenciankebodohan batin menguasai perikehidupan manusia dengan menyengsarakan mayoritas masyarakat yang tidak berdaya dan terpinggirkan. Kesalingterkaitan ini membuat sebab dukkha tidak hanya dan tidak dapat direduksi menjadi persoalan individu semata. Ada begitu banyak aspek dalam kehidupan yang menjadi sebab dukkha, yang semuanya dapat termanifestasi secara multi-inter-dimensi baik individu, sosial, budaya, politik, ekonomi, hingga ideologi.

Tidak ada satu aspek pun dalam kehidupan yang tidak penting untuk dipahami guna memahami akar dan sebab dukkha, dan tidak ada satu aspek pun dalam kehidupan yang tidak penting untuk digeluti guna mengatasi akar dan sebab dukkha. Karena Dharma bersifat universal, Ia juga harus mampu mengatasi setiap bentuk dukkha baik secara individu maupun secara sosial, budaya, ekonomi, politik, hingga kosmik.

Bahwa keuniversalan Dharma berarti ia juga bersifat inklusif terhadap kehidupan.

“Oh murid-Ku, sekalipun Tathagatha tidak pernah terlahir ke dunia, atau sekalipun Dharma yang Kuajarkan lenyap dari muka bumi ini, dunia ini tidak akan pernah sepi dari orang-orang suci yang mencapai pembebasan sempurna selama manusia masih mengenal dan mempraktekkan Jalan Mulia Berunsur Delapan.”(A.III:134)

“Dharma yang Kuajarkan hanyalah segenggam daun dari daun-daun kebenaran yang ada di seluruh hutan Simsapa ini … namun Dharma yang sedikit ini mampu membawa pembebasan sempurna manusia dari dukkha, dan selebihnya yang tidak kuajarkan tidak berguna untuk membimbing jalan menuju kebebasan.” (SN.V:437)

 Dharma bersifat inklusif karena kebenaran Dharma bukan eksklusif dapat ditemukan di dalam Buddha-Dharma. Jalan Pembebasan Dharma pun tidak eksklusif karena kebenaran yang sama dapat ditemukan di mana pun. Kebenaran Dharma melampaui simbol dan identitas apa pun yang dilekatkan ke dalam diri Nya. Universalitas dan inklusivitas Dharma akan menuntun manusia di sepanjang kehidupan untuk bekerja sama guna mengatasi persoalan persoalan dukkha dan kemanusiaan tanpa membedabedakan latar belakang apa pun dan dimensi penyebab dukkha apa pun.

“Seperti sungai-sungai besar apapun sebutannya …

Semuanya akan mengalir ke samudra luas dan akan

kehilangan wujud dan namanya dan hanya akan

disebut sebagai samudra luas, …

Seperti halnya samudra luas mempunyai satu rasa yakni rasa asin

demikian pula Dharma dan Vinaya memiliki satu rasa

(tujuan) yang sama, yakni rasa Pembebasan .”

(Middle Length Sayings of Buddha:180) 

Bahwa semua Dharma dengan simbol dan identitas apa pun yang melekat, ia tetap Dharma yang Esa selama memiliki rasa dan tujuan pembebasan bagi manusia dan kehidupan. Dharma tidak membedakan, tidak mendua, tidak diskriminasi. Setiap manusia di hadapan Dharma adalah sama dan setara, karenanya memiliki harkat dan martabat kemanusiaan yang sama dan sederajat. Siapa pun tanpa membeda-bedakan latar belakang apa pun, manusia di mata Dharma memiliki potensi pembebasan yang sama, memiliki “Benih Kebuddhaan” yang harus dijaga dan senantiasa dikembangkan. Karenanya menjaga dan melindungi kehidupan manusia sangat mendasar. Membunuh manusia sama saja membunuh “Benih Kebuddhaan”.

Bahwa memandang manusia secara utuh berarti melibatkan aspek fisik lahiriah dan aspek mental spiritual. Mewujudkan kesejahteraan manusia seutuhnya berarti memenuhi kesejahteraan fisik manusia yang dicapai pada saat empat kebutuhan dasar manusia – sandang, pangan, papan, obatobatan – terpenuhi secara wajar; juga kesejahteraan spiritual yang dicapai pada saat manusia mencapai kebahagiaan yang bebas dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin.

“Yang paling buruk dari semua noda itu adalah kebodohan, oh para biku. Kebodohan merupakan noda yang paling buruk. Singkirkanlah noda itu dan jadilah orang yang tak bernoda.” (Dhammapada 243) 

Demikian pula manusia merupakan makhluk berakal-budi yang tidak terlepas dari proses belajar yang berkelanjutan selama hidupnya. Guna menjamin kesejahteraan fisik dan spiritual, setiap manusia memiliki hak atas pendidikan yang merupakan kebutuhan dasar yang harus dijamin.

Bahwa dalam hubungannya dengan lingkungan yang terdiri dari lingkungan fisik (alam) dan lingkungan sosial (relasi antar-sesama manusia), manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa keterkaitannya dengan yang lain. Eksistensi manusia tidak dapat terlepas dari hubungannya dengan alam karena manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari alam. Merusak alam sama artinya dengan merusak eksistensi manusia. Karenanya kewajiban bagi manusia untuk menjaga kelestarian alam demi kelangsungan eksistensinya sendiri.

Bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta bukan milik pribadi melainkan milik dan demi kesejahteraan bersama. Alam tidak boleh menjadi hak sekelompok manusia dan tidak ada manusia yang mempunyai hak monopoli terhadap alam. Alam dapat dikelola dan dalam pengendalian negara hanya demi kesejahteraan rakyat luas secara keseluruhan. Cara pemanfaatan alam hanya dibenarkan sejauh tidak merusak kemampuannya untuk merevitalisasi dirinya demi kelangsungan hidup alam itu sendiri.

“Tidaklah mudah, oh para biku, untuk menemukan seorang makhluk di sepanjang proses kehidupan yang berulang ulang ini, yang tidak pernah berhubungan dengan kita sebagai seorang ibu, ayah, saudara, atau anak.” (S. II, 89)

 Demikian pula manusia sebagai makhluk sosial dalam berhubungan dengan sesama dan lingkungan sosialnya harus mampu mewujudkan keadilan, kesejahteraan, dan keharmonisan kehidupan. Karenanya pendekatan holistik terhadap keterkaitan dan jaring kehidupan yang saling mendukung harus terjaga.

Tidak ada satu aspek kehidupan yang tidak mempengaruhi kesejahteraan hidup sehingga persoalan-persoalan lingkungan, sosial, politik, ekonomi, hak asasi, budaya, pendidikan, kesehatan, dsbnya merupakan kesatuan yang saling mempengaruhi. Semangat sejati dari kesejahteraan sosial adalah menghapus setiap bentuk kemiskinan dan ketidakadilan sosial. Karenanya segala bentuk diskriminasi dan ketidakadilan perlu diakhiri dengan mewujudkan kesetaraan, keadilan, solidaritas, dan persaudaraan antarmanusia.

“Sesungguhnyalah mereka yang melayani semua makhluk berarti melayani para Buddha.” (Shantideva).

Bahwa dalam berpolitik usaha manusia diarahkan demi kepentingan dan kesejahteraan umum dengan melakukan segala upaya dan tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan moral, akal budi, dan hati nurani. Berpolitik dapat bersifat teoritis berupa diskusi, berwacana, belajarmengajar politik maupun bersifat praktis dengan menggalang kekuatan, berorganisasi, membuat kebijakan, dan menjalankan roda pemerintahan. Tujuan utama berpolitik baik teoritis maupun praktis adalah guna melakukan perubahan struktur menuju perbaikan kehidupan bermasyarakat yang berdaulat, adil, dan sejahtera. Secara spesifik, ada sepuluh hal yang perlu dilakukan dalam mengatur negara agar terwujud kesejahteraan, yakni pemimpin dan rakyatnya: sering mengadakan pertemuan dan komunikasi; mendahulukan perdamaian dan menyelesaikan permasalahan secara damai; mematuhi undangundang yang berlaku, menyesuaikan peraturan lama sesuai perkembangan, serta membuat peraturan baru yang adil yang dibutuhkan; tidak melakukan tindak kekerasan, penindasan, kesewenang-wenangan terutama kepada mereka yang lemah, kaum perempuan, dan anak-anak; bersikap hormat kepada orangtua, sesepuh, dan mereka yang patut dihormati; membangun dan merawat bangunan-bangunan publik berupa tempat ibadah, sekolah, rumah-sakit, rumah jompo, panti asuhan, dan sarana sosial lainnya; menunjang kehidupan mereka yang berjasa buat kesejahteraan masyarakat seperti pahlawan dan guru. Dan secara prinsip, tujuan dari politik adalah sebagai pengabdian kepada kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan rakyat.

“Kemiskinan adalah sumber kejahatan, oleh karena itu kemiskinan harus dihilangkan dan kesejahteraan harus ditingkatkan.” (D.:26)

Bahwa dalam kehidupan ekonomi, semua usaha perekonomian tidak dapat didasarkan kepada pengeksploitasian manusia terhadap manusia. Perekonomian dijalankan demi dan berorientasi kepada kesejahteraan manusia dan bukan uang atau modal. Karena itu pengakumulasian uang/modal diarahkan untuk kesejahteraan umum dan bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan semata. Kesejahteraan ekonomi diarahkan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar manusia meliputi sandang, pangan, papan, kesehatan, dan pendidikan secara wajar berkualitas.

Bahwa sumber kemiskinan dengan demikian lebih berat dan besar dari kejahatan itu sendiri. Dalam banyak hal, kemiskinan bukan takdir dan tidak bersifat alami. Dalam realita saat ini, banyak kemiskinan disebabkan oleh proses pemiskinan yang diciptakan, bersumber dan disebabkan oleh struktur dan kebijakan politik-ekonomi yang tidak berpihak kepada mayoritas rakyat, tapi menguntungkan minoritas kaum berkuasa dan pemilik modal.

Indonesia sebagai negara tropik yang secara geografis strategis dan menempati kawasan yang sangat luas dan tersusun dari belasan ribu pulau serta garis pantai terpanjang dunia, memiliki kekayaan alam tak terbaharui yang sangat besar maupun kekayaan alam terbaharui dengan keanekaragaman hayati daratan terbesar kedua dunia dan lautan terbesar pertama dunia, menjadi modal terbesar bangsa untuk mensejahterakan segenap rakyat. Tidak ada syarat bagi bangsa Indonesia secara alami untuk menjadi bangsa yang miskin kecuali sebuah kemiskinan yang diciptakan yang digerakkan oleh mental korup dan serakah.

“Mereka yang melihat sebab akibat, oh para bhkihku, dengan demikian mampu melihat Dharma.” (M. I, 191)

 Demikian pula penguasaan sumber kekayaan alam, pasar, teknologi, dan sistem perekonomian oleh kekuatan besar asing merupakan sumber kemiskinan dominan yang sedang berlangsung saat ini di banyak negara berkembang. Untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, basis kemandirian dan kedaulatan sebagai bangsa dalam segala aspek kehidupan menjadi faktor utama. Mewujudkan seluruh nilai dan amanat Pembukaan UUD 1945 secara konsisten dan konsekuen oleh segenap komponen bangsa merupakan jalan keluar dari kemiskinan sistemik. Karenanya kedaulatan dan kemandirian bangsa harus ditegakkan, mental dan perbuatan korup harus ditiadakan.

“Orang bodoh meskipun memiliki pengetahuan namun tiada berguna; pengetahuannya akan menghancurkan kebahagiaannya dan akan membelah kepalanya sendiri” (Dh.V:72) 

Demikian pula untuk memudahkan kehidupan dan semakin meningkatkan kualitas kesejahteraan fisik dan spiritual manusia, adalah dasar dari pengembangan dan penguasaan teknologi, dan bukan menempatkan teknologi untuk mendominasi dan menindas kehidupan manusia.

“Oh para bhkihku, dunia ini terbakar, …

terbakar oleh nafsu keinginan, ….

terbakar oleh kebencian, terbakar oleh kegelapan batin, …

terbakar oleh kelahiran, usia tua dan kematian,

oleh duka dan kepedihan.” (S.IV:19)

 

Bahwa keinginan manusia bersifat tak terbatas, sementara obyek untuk memenuhi keinginan tersebut bersifat terbatas. Untuk mencapai kebahagiaan sejati, manusia harus mencapai sesuatu yang tak terbatas yang disebut Pembebasan Sempurna. Karenanya setiap potensi “Benih Kebuddhaan” manusia harus senantiasa dijaga dan dikembangkan hingga tercapai Pembebasan Sempurna.

“Oh para bhikkhu, ada dua jenis pencarian, yang luhur dan yang tidak luhur. Di sini, seseorang yang dirinya sendiri terkena kelahiran, penuaan, penyakit, kematian, penderitaan, dan dikuasai oleh kekotoran batin, namun dia mencari apa yang juga terkena kelahiran, penuaan, penyakit, kematian, penderitaan, dan yang dikuasai oleh kekotoran batin”

“Dan apakah pencarian yang luhur itu? Di sini, seseorang yang dirinya sendiri terkena kelahiran, penuaan, penyakit, kematian, penderitaan, dan yang dikuasai oleh kekotoran batin, namun ia memahami bahaya dari semua hal tersebut dan mencari jaminan tertinggi yang terbebas dari semua hal tersebut, yang tak-terlahir lagi, dan bebas dari semua ikatan, Nirvana.” (Majjhima Nikaya 26, 5/12)

Demikian pula, tugas dan tanggung jawab utama setiap siswa Buddha selain mempraktekkan dan menyempurnakan paramitanya demi kesejahteraan manusia lainnya adalah menyempurnakan dirinya dari setiap bentuk kebencian, keserakahan, dan kebodohan batin yang muncul dari hasil interaksi seluruh pintu inderanya dengan dunia luar. Selalu sadar dan sadar hingga tercapai kesejahteraan fisik dan spiritual secara optimal bagi manusia banyak dan diri sendiri merupakan tujuan utama hidup.

“Jangan takut, di sini Yasa, tiada yang mencemaskan.

Di sini Yasa, tiada yang menyakitkan.” (Vin. I, 15)

Gerbang Tanpa-Kematian telah terbuka lebar

Biarlah mereka yang memiliki pendengaran

Menjawabnya dengan keyakinan

Biarlah mereka mendengar

Dharma yang telah ditemukan oleh Yang-Tak-Bernoda

“Segala sesuatu yang bersyarat yang terdiri dari

paduan unsur tidaklah kekal. Karena itu, berjuanglah

dengan sungguh-sungguh sadar untuk mencapai

Pembebasan Sempurna.” (D. II, 156)

Penutup

Menjadi penegak Dhamma bukan hal mudah dan sangat penuh tantangan, sama dengan perjuangan Sidharta menjadi seorang Buddha, berlandaskan pandangannya melihat dunia yang penuh dengan ketidakadilan dan penderitaan, melihat kekuasaan dipakai sebagai alat pemuas kepentingan orangorang tertentu. Begitulah Beliau menentang arus, berani tampil berbeda, dan berani mencari Kebenaran Sejati, dan Beliau menemukannya. Bagaimana kita yang meski di jaman yang berbeda namun mengalami esensi yang sama dari kehidupan manusia? Janganlah menunda apa yang dapat kita lakukan hari ini.

Pustaka

Chandra, Ariya. Aplikasi Dharma dan Kontribusi

Mahasiswa Buddhis (Artikel). Jakarta, Maret 2007.

Komisi I Paradigma. Hasil Komisi I Paradigma

dalam Kongres IV HIKMAHBUDHI. Surabaya,

  1. (Beserta revisinya).

Priastana, Jo. Buddhadharma & Politik. Yasodhara

Putri, 2004.

Majjhima Nikaya

Samyutta Nikaya

Dhammapada

Anguttara Nikaya

Digha Nikaya

Middle-Length sayings

Share this: