Tantangan Nasionalisme Pemuda di Era Kosmopolitanisme

5

Majalah-Hikmahbudhi.com Dalam rangka menyambut pergantian tahun 2019, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) mengadakan Diskusi Refleksi Akhir Tahun dengan tema “Nasionalisme dalam Arus Kosmopolitanisme” , berlokasi di Grand Alia Cikini, Jakarta Pusat (31/12).

Beberapa pimpinan pusat organisasi kemahasiswaan turut hadir menjadi narasumber di acara ini, antara lain Ari Sutrisno dari PP HIKMAHBUDHI, Juventus Prima Yoris Kago dari PP PMKRI, Korneles Jacob Galanjinjinay dari PP GMKI, I Kadek Andre Nuaba dari PP KMHDI, dan serta keynote speaker dari  Deputi Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga,  Drs H.M. Asrorun Ni’am Sholeh , MA.

Acara diskusi refleksi ini dipandu oleh moderator yang merupakan kader PMKRI yaitu  Aturma Hutapea. Antusiasme tamu undangan pun cukup ramai, kurang lebih 80 orang tamu undangan yang hadir. Dalam kesempatan ini, Asrorun mengungkapkan, kaum muda adalah pemilik masa depan dan tidak hanya masa depan sebenarnya, tapi juga masa sekarang. Semakin mudahnya akses informasi dan komunikasi, maka semakin terbuka ruang kita untuk berperan dengan revolusi industri 4.0 yang memberikan ruang percepatan terhadap partisipasi kaum muda di dalam memasuki ruang-ruang publik.

“Dan ini kemudian kalau kita baca sejarah peranan kaum muda Indonesia di dalam mewujudkan kemerdekaan Republik Indonesia dan mempertahankan serta mengisinya di awal-awal kemerdekaan dulu itu adalah sejarahnya kaum muda . Tidak hanya muda semangat tetapi muda secara biologis” ujarnya.

Di era Kosmopolitanisme ini yang menjadi tantangan adalah pemuda akan dihadapkan pada individualisme ketika disandingkan dengan derasnya arus globalisasi yang bisa menggerus nasionalisme. Dan apa yang menjadi pekerjaan rumah pemuda mencakup ada 3 poin yaitu, menjaga identitas kebangsaan, menjaga komitmen sebagai kaum gerakan dan harus terjun membangun daerah.

Pada diskusi ini juga disinggung bagaimana pemuda terlibat dalam membuat peradaban yang baru, secepat apapun perubahan didunia seharusnya ini tidak bisa menggeser nasionalisme, pancasilaisme dan yang akan menjadi tugas pemuda adalah menyiapkan mental dan karakter dengan tetap menjalankan pengkaderan tanpa bergantung pada pemerintah. Serta gerakan –gerakan pemuda harusnya lebih aktif dibandingkan dengan kaum-kaum ekstrimis maupun kaum fundamentalis. Ini menjadi evaluasi bersama untuk tetap duduk bersama memformulasikan gerakan mahasiswa yang progresif.

Kosmopolitanisme itu merujuk pada pidato yang disampaikan oleh Presiden Ir. Soekarno tentang nasionalisme. Di mana pemuda tetap mencintai nasionalisme dan internasionalisme ketika pemuda akan dihadapkan dengan era globalisasi. Tantangan selanjutnya bagi pemuda terhadap nasionalisme adalah persatuan. Pemuda Indonesia diharapkan tetap solid dan aktif dalam berbagai gerakannya. Untuk menghadapi era itu, pemuda juga harus memperluas pengetahuan dan kemampuan bahasa-bahasa asing dan meningkatkan pengetahuan di bidang digital. Memasuki tahun politik 2019, pemuda diharapkan dapat menguatkan komitmen untuk mengkonsolidasikan pemilih-pemilih muda untuk ikut ambil bagian di pemilu 2019.

Selain itu apa yang harus dilakukan pemuda di era globalisasi ini adalah pemuda harus bisa memiliki mindset kompetitif dan meningkatkan kapasitas diri di bidang yang digeluti. Selain itu, diharapkan mampu menjadi salah satu elemen yang dapat terlibat dalam memerangi hoaks di tahun 2019, serta turut aktif dalam mengawal proses berlangsunya pemilihan umum.

Oleh : Wandi Siswanto 
Editor : Chrissa Gotami

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here