Indonesia masih dijajah walau sudah 75 tahun Merdeka

124

Peringatan 75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini dilalui dengan banyak perjuangan. Tantangan melewati wabah pandemi hingga ancaman krisis ekonomi menjadi ujian bagi Indonesia. Berbagai elemen masyarakat hingga pemerintah bahu membahu bekerja sama mengatasinya. Semangat gotong royong dapat kita rasakan bersama selama masa-masa penuh tantangan akhir-akhir ini. Namun begitu, hal ini sekaligus menjadi catatan bahwasanya kehadiran pemerintah masih jauh dari maksimal untuk menangani krisis di tengah pandemi. Kegagapan dan kelengahan pemerintah dalam mengantisipasi dan mengatasi wabah pandemi terlihat nyata hingga hari ini.

Tidak berhenti pada tantangan di masa pandemi, pekerjaan rumah Indonesia untuk menjadi bangsa yang maju juga masih banyak. Persoalan intoleransi, lemahnya penegakan hukum, kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat, hingga munculnya ideologi-ideologi yang ingin menggantikan Pancasila sebagai dasar ideologi bangsa, menjadi catatan kita bersama bahwasanya perjalanan kita untuk menjadi bangsa yang maju dengan demokrasi yang sehat masih harus terus diperjuangkan.

Kritik-kritik yang sejatinya dapat mendewasakan demokrasi hari ini pun banyak dijawab dengan panggilan hukum. Gagasan idealnya dilawan dengan gagasan, hoaks seharusnya dilawan dengan data dan fakta, tapi hari ini kita bisa mendapati siapa saja bisa menunggu giliran dibungkam karena menyampaikan pendapat dan gagasan.

Munculnya rancangan kebijakan-kebijakan yang tidak memprioritaskan kepentingan rakyat juga menjadi catatan penting hari ini. Alih-alih menjadi penyambung lidah rakyat, penguasa memilih untuk mengedepankan kepentingan pemodal atas nama kepentingan bersama.

Pandemi juga menjadi momentum yang membuka mata bahwa akses pendidikan masih menjadi barang mewah bagi sebagian masyarakat. Banyak pelajar yang tidak bisa mendapat akses bahan ajar yang mudah karena keterbatasan infrastruktur. Di sisi lain PR soal mensejahterakan para guru pengajar juga masih jauh dari nilai ideal.

Mungkin hari ini kita sudah merdeka dari penjajahan bangsa lain. Namun kebebasan kita untuk meraih kesejahteraan secara kolektif masih terjajah oleh sistem yang kolonialis. Bedanya hanya tidak menjajah bangsa lain, tapi saudara sebangsanya sendiri.

Keterlibatan kita bersama untuk mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya hanya bisa dicapai apabila kita bersatu padu dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Peran-peran berdampak positif yang kita miliki dalam menjalani kehidupan sehari-hari akan memberikan sumbangsih yang berarti dalam mendorong Indonesia untuk mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya. Sebagai bagian dari elemen pemuda, kami tidak berhenti untuk menyerukan semangat persatuan dan kesatuan agar agenda-agenda yang berpotensi memecah belah dapat disingkirkan dengan mudah. Karena prioritas hari ini adalah memulihkan kondisi berbagai sektor kehidupan masyarakat yang masih penuh ketidakpastian.

75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang telah dicapai hari ini harus terus diperjuangkan kita bersama. Tidak hanya berhenti pada selebrasi-selebrasi tapi terus berlanjut pada aksi nyata. Karena keteladanan dan daya juang para founding fathers harus menjadi spirit yang bisa kita teruskan bersama. Merdeka!

Oleh : Ari Sutrisno (Ketua Umum HIKMAHBUDHI)