Sejarah HIKMAHBUDHI

HIKMAHBUDHI adalah sebuah wadah organisasi mahasiswa Buddhis tingkat nasional yang didirikan pada tahun 1988, namun sejak tahun itu pula tidak dirasakan keberadaannya. Dan pada pertengahan tahun 90-an, beberapa aktivis mahasiswa Buddhis kembali menghidupkan organisasi ini sebagai sarana perjuangan untuk mewujudkan kepedulian terhadap masyarakat Indonesia. Selain itu, HIKMAHBUDHI juga digunakan untuk mengisi kekosongan elemen mahasiswa Buddhis dalam pergerakan bersama mahasiswa Indonesia dalam gerakan reformasi di tahun 1998.

   Kebangkitan kembali HIKMAHBUDHI secara resmi ditandai dengan pengangkatan Pejabat Pengurus Pusat yang diketuai saudara Agus Tjandra oleh Sidang Musyawarah KMBJ tahun 1998. Sidang Musyawarah 1998 juga menetapkan KMBJ melakukan fusi ke dalam HIKMAHBUDHI, dan untuk selanjutnya menjadi Presidium Pengurus Cabang (PPC) HIKMAHBUDHI Jakarta.    Sejak saat itu pengurus HIKMAHBUDHI terus melakukan sosialisasi, sehingga, pada 17-20 Agustus 2002 di Jakarta, berhasil diselenggarakan Rembug Mahasiswa Buddhis Indonesia (RMBI) yang diikuti perwakilan dari Tangerang, Bogor, Semarang, Malang, Surabaya dan tuan rumah Jakarta sendiri. 

  Salah satu hasilnya adalah dibutuhkan organisasi kemahasiswaan Buddhis nasional. Hasil dari RMBI disepakati membuat agenda bersama yang menghasilkan: 
(1) Pembentukan HIKMAHBUDHI Cabang
(2) Revisi AD/ART
(3) Target Kongres dan 
(4) Menetapkan Aksi Program.  

  Upaya menghidupkan kembali HIKMAHBUDHIini bukan tanpa tantangan. Apalagi dengan arah pergerakannya yang cenderung menoleh ke masyarakat. Sikap sinis, curiga, dan keraguan muncul dari berbagai arah, baik dari pimpinan dan tokoh Buddhis, kalangan sesama aktivis, termasuk sekelompok alumni KMBJ dan KMB daerah lainnya yang pernah tergabung ke dalam HIKMAHBUDHI sebelumnya.   

   Sebaliknya, dukungan dan dorongan juga datang terutama dari kalangan intelektual moderat Buddhis meskipun jumlahnya jauh lebih sedikit. Yang ironis, dukungan terbesar justru datang dari kalangan dan tokoh non-Buddhis nasional serta aktivis Buddhis internasional. Tidak kurang Bhikkhu Maha Ghosananda, Dr. Sulak Sivaraksa, dan aktivis-aktivis pemerhati sosial Buddhis manca negara menyatakan dukungannya baik secara lisan maupun dalam bentuk konkret lainnya.   Menanggapi nada-nada sumbang yang berkembang, HIKMAHBUDHI mengambil sikap untuk terus konsisten memperjuangkan arah geraknya, tentunya dengan memperhatikan masukan maupun kritikan yang bersifat membangun.   

   HIKMAHBUDHI sadar tanpa dukungan luas,perjuangan yang dilakukannya mustahil dapat tercapai. Sikap konsisten ini bukan karena arogansi namun lebih bermuara pada keinginan untuk membentuk suatu sarana perjuangan yang tangguh, sebuah sarana perjuangan yang diharapkan dapat memunculkan komunitas Buddhis masa depan yang peduli pada penderitaan sosial masyarakat, dan kelestarian nilai-nilai universal Buddhis.